DEPOK — Panggung seni di Ciplaz Depok tak sekadar menjadi arena perlombaan. Selama dua hari, 26–27 September 2026, ratusan anak dan remaja tampil membawakan tari tradisional sekaligus menunjukkan bahwa budaya masih memiliki tempat di tengah generasi muda.
Sebanyak 288 peserta dari jenjang TK hingga SMA ambil bagian dalam lomba yang digelar Q’Rey Enterprise tersebut. Mereka terbagi dalam kategori TK, SD kelas 1–3, SD kelas 4–6, SMP, dan SMA.
Kegiatan ini turut mendapat dukungan AMC Kerakyatan Bekasi Raya. Sekda AMC Kerakyatan Bekasi Raya, Mansur, hadir langsung menyaksikan rangkaian kegiatan yang mempertemukan peserta, orang tua, komunitas seni, masyarakat, dan pelaku usaha.
Mansur menilai kegiatan seni seperti ini penting karena pelestarian budaya membutuhkan ruang bagi generasi muda untuk mengenal sekaligus mempraktikkannya.
“Budaya tidak cukup hanya dibicarakan. Anak-anak perlu diberi ruang untuk mengenal, mempelajari, dan menampilkan budaya agar tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” kata Mansur.
Antusiasme peserta membuat suasana Ciplaz Depok semakin semarak. Anak-anak tampil dengan beragam kostum dan gerakan tari, sementara orang tua serta pendamping memberikan dukungan dari sekitar area perlombaan.
Pemilik sekaligus pengelola Q’Rey Enterprise, Nuraini, mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya mengenalkan sekaligus menjaga budaya tradisional kepada anak-anak dan remaja.
“Saya sangat bangga bisa membantu melestarikan budaya di Kota Depok, khususnya bagi anak-anak usia dini hingga remaja. Alhamdulillah, acara yang berlangsung selama dua hari ini berjalan lancar,” ujarnya.
Untuk menjaga objektivitas perlombaan, panitia menghadirkan empat juri dari berbagai daerah dan latar belakang, yakni perwakilan Disporyata KA Alit, Bunda Dewi dari DKD, Bunda Neng dari Cikarang, serta Pap Asmir dari Bandung.
Pap Asmir mengatakan keterlibatan juri dari luar daerah menjadi bagian dari upaya menjaga profesionalitas penilaian.
“Saya sangat senang dapat terlibat dalam acara ini. Sebagai juri dari luar daerah, saya berupaya menjaga netralitas dalam penilaian. Di sini ada empat juri dan kami bersikap profesional dalam menjalankan tugas,” katanya.
Penilaian mencakup teknik tari, ekspresi, kekompakan, kemampuan peserta, hingga kesesuaian penampilan dengan tema budaya yang dibawakan.
Ketua DKD, Kang Wawan, yang hadir dalam kegiatan tersebut juga memberikan masukan kepada pengelola Ciplaz Depok dan Q’Rey Enterprise.
Ia mendorong agar kegiatan seni dan budaya tidak berhenti pada satu gelaran, tetapi dapat dikembangkan menjadi agenda rutin.
Menurutnya, lomba tari tradisional bisa menjadi ruang bagi anak-anak dan remaja untuk mengenal budaya sekaligus mengembangkan bakat seni mereka.
Ramainya peserta dan pengunjung juga memberikan dampak lain. Kehadiran ratusan peserta bersama keluarga membuat aktivitas di kawasan Ciplaz Depok ikut meningkat.
Tenant, area kuliner, parkir, wahana bermain, hingga berbagai usaha pendukung turut merasakan pergerakan pengunjung selama kegiatan berlangsung.
Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan budaya juga dapat berjalan beriringan dengan aktivitas ekonomi masyarakat.
Nuraini berharap lomba tari tradisional tersebut dapat kembali digelar dengan peserta yang lebih banyak.
“Semoga acara seperti ini sering diadakan di Depok agar budaya di Kota Depok dapat terangkat, baik di Depok maupun di luar Depok, bahkan sampai ke luar negeri,” ujarnya.
Bagi AMC Kerakyatan Bekasi Raya, keterlibatan dalam kegiatan tersebut menjadi bagian dari dukungan terhadap ruang-ruang positif bagi generasi muda sekaligus pelestarian budaya.
Dari panggung tari di Ciplaz Depok, budaya tidak hanya ditampilkan sebagai warisan masa lalu. Budaya mendapat ruang untuk terus dipelajari, dipraktikkan, dan diperkenalkan kepada generasi berikutnya.
Pada saat yang sama, kegiatan seni juga mampu mempertemukan masyarakat, komunitas, dunia usaha, dan berbagai elemen lainnya dalam satu ruang yang sama.
Penulis : b. haro
Editor : ami






