BOGOR – Mudik kini tak lagi sekadar pulang kampung demi bersua keluarga dan menjalin silaturahmi. Di era digital dan serba instan ini, mudik mulai berubah arah menjadi ajang unjuk pencapaian dan flexing di media sosial.
Menurut Prof. Dr. Sofyan Sjaf, pakar Sosiologi Pedesaan dari IPB University, dalam siaran persnya pada Selasa (8/4), pergeseran budaya mudik ini tak lepas dari dinamika zaman.
“Dulu, mudik adalah ritual sakral. Sekarang, banyak yang menjadikannya sebagai panggung pamer gaya hidup sukses,” tegasnya.
Dari Sakral ke Sosial Media
Pada masa lalu, motivasi utama mudik adalah mengunjungi orang tua, memohon maaf, dan mempererat ikatan darah. Namun kini, menurut Prof. Sofyan, makna itu mulai memudar.
“Masyarakat usia produktif lebih suka merayakan Lebaran di tempat liburan atau bahkan di luar negeri. Bukan pulang ke kampung halaman, tapi justru membawa orang tua berlibur,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa perubahan gaya hidup turut mendorong pergeseran ini.
“Biaya transportasi yang makin terjangkau dan banyaknya opsi kendaraan membuat orang lebih fleksibel, tapi sekaligus membuat mudik kehilangan nilai sakralnya.”
Flexing Jadi ‘Menu Utama’
Bukan lagi sungkeman yang jadi sorotan saat Lebaran. Kini, feed Instagram dan story TikTok justru menjadi ajang utama para pemudik.
“Budaya materialisme semakin menonjol. Dulu orang pulang kampung bawa tangan kosong tapi hati penuh syukur. Sekarang? Bawa koper branded, pamer outfit, bahkan tunjukkan saldo e-wallet,” ungkap Prof. Sofyan dengan nada prihatin.
Menurutnya, ini menandai pergeseran nilai dari kesederhanaan menuju kompetisi simbolik.
“Kalau dulu mudik adalah perjalanan hati, kini lebih mirip kompetisi visual,” tambahnya.
Tradisi yang Mulai Terkikis
Tak hanya itu, cara bersilaturahmi pun mengalami transformasi besar.
“Dulu orang datang dari rumah ke rumah. Sekarang? Cukup satu undangan halal bihalal di tempat wisata. Efisien, tapi minim kehangatan,” katanya.
Budaya sungkeman yang pernah jadi simbol penghormatan pun mulai langka.
“Banyak anak sekarang hanya kirim pesan WhatsApp atau video call. Sementara nilai adab yang dulu ditanamkan lewat sungkeman, perlahan menghilang,” jelas Prof. Sofyan.
Mudik dan Efek Ekonomi
Namun, di balik semua perubahan itu, mudik tetap menjadi penggerak ekonomi daerah. “Ketika pemudik datang, perputaran uang di desa meningkat drastis. Ini peluang besar bagi UMKM lokal,” ujarnya.
Meski begitu, ia mengingatkan bahwa tren urbanisasi tetap jadi tantangan serius. “Kita harus berhenti melihat kota sebagai pusat segalanya. Pembangunan desa harus digerakkan dengan strategi yang lebih berani dan sistematis,” tutupnya.
Mudik kini bukan hanya soal rindu, tapi juga citra. Di antara padatnya lalu lintas dan padatnya unggahan media sosial, mungkin kita perlu bertanya kembali: apa sebenarnya makna pulang?
Kalau kamu mudik tahun ini, apakah masih mencari makna, atau sekadar mencari sinyal untuk upload story? (Rahmat Kurnia)
Penulis : Rahmat Kurnia Lubis
Editor : Erka






