JAKARTA – Di ujung barat Indonesia, di tengah hamparan Samudra Hindia yang luas, berdiri tegak sebuah menara tua yang terus memancarkan cahaya.
Ia bernama Willem’s Toren III, sebuah mercusuar peninggalan Belanda di Pulau Breueh, Kecamatan Pulo Aceh, Kabupaten Aceh Besar. Usianya sudah lebih dari satu abad, namun sinarnya masih menjadi penuntun kapal yang melintas di perairan strategis antara Selat Malaka dan Samudra Hindia.
“Willem’s Toren adalah salah satu mercusuar bersejarah yang terletak di Pulau Breueh (Pulau Beras), Kecamatan Pulo Aceh, Kabupaten Aceh Besar. Nama resminya adalah Willem’s Toren III, dan usianya sudah lebih dari satu abad,” ujar Djoko Setijowarno, Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata sekaligus Wakil Ketua Pemberdayaan dan Pengembangan Wilayah Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pusat, dalam keterangannya, Senin (20/10/2025)
Mercusuar ini bukan sekadar bangunan maritim, melainkan simbol sejarah panjang pelayaran di perairan barat Indonesia. Fungsinya vital—menjadi penanda lokasi, peringatan bahaya, dan pemandu kapal masuk pelabuhan. Meski kini teknologi navigasi modern seperti GPS dan radar telah menguasai dunia pelayaran, mercusuar tetap menjadi sarana bantu navigasi yang tak tergantikan.
“Fungsi utama mercusuar tetap sama sejak dulu: memastikan keselamatan kapal di laut. Pola kedip cahayanya yang unik menjadi penanda lokasi bagi pelaut, terutama pada malam hari atau saat cuaca berkabut,” kata Djoko menegaskan.
Penjaga Laut di Ujung Barat
Mercusuar Willem’s Toren III berada di bawah pengawasan Distrik Navigasi (Disnav) Kelas II Sabang, Direktorat Navigasi Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan. Wilayah kerjanya mencakup sebagian besar perairan Provinsi Aceh—dua pertiga luas wilayah laut provinsi ini, mulai dari perairan Simeulue hingga Sabang, dari Tapak Tuan di selatan hingga Lhokseumawe di timur.
Disnav Sabang memiliki tugas utama menjaga keselamatan pelayaran melalui pengawasan dan pemeliharaan Sarana Bantu Navigasi Pelayaran (SBNP), seperti mercusuar, rambu suar, dan pelampung suar.
“Meski banyak teknologi baru, mercusuar tetap menjadi alat bantu navigasi tertua dan masih vital di banyak perairan dunia, termasuk Indonesia,” kata Djoko.
Posisinya yang strategis menjadikan mercusuar ini sangat penting bagi kapal-kapal yang melintasi jalur internasional. Willem’s Toren III berdiri kokoh di atas tebing cadas setinggi 310 meter di atas permukaan laut, dengan pemandangan yang langsung menghadap ke lautan lepas.
Jejak Sejarah dari Masa Kolonial
Mercusuar Willem’s Toren III dibangun sekitar tahun 1875 oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Pembangunannya tercatat dalam buku sejarah Perang Aceh karya Mayor Jenderal G.F.W. Borel, berjudul Onze Vestiging in Atjeh (Pendudukan Kami di Aceh). Nama “Willem’s Toren” diambil dari nama Raja Belanda saat itu, Willem Alexander Paul Frederik Lodewijk.
Pembangunan mercusuar ini bukan perkara mudah. Pulau Breueh kala itu bukan sekadar pulau sunyi di Samudra Hindia, tetapi juga medan pertempuran antara tentara Belanda dan pasukan Aceh. Pejuang Aceh yang dipimpin Teungku Chik di Tiro beberapa kali melakukan serangan untuk menggagalkan proyek ini.
Belanda harus mendatangkan pasukan militer tambahan dari Batavia dan Sumatera untuk melindungi proses pembangunan. Bahkan, mereka mempekerjakan ratusan orang dari berbagai daerah, termasuk dari Ambon, sebagai tenaga kerja paksa.
Namun, berkat kegigihan dan keteguhan rancangan arsitek Belanda kala itu, Willem’s Toren akhirnya berdiri megah. Dengan tinggi sekitar 85 meter dan dinding setebal 1 meter, menara berbentuk silinder ini menjadi salah satu mercusuar tertinggi di kawasan Asia Tenggara pada masanya. Di sekelilingnya, dibangun pula kompleks perumahan perwira dan gudang peralatan yang kini sebagian besar telah runtuh dimakan waktu.
Menariknya, Willem’s Toren III bukan satu-satunya mercusuar dengan desain seperti ini. Dua mercusuar lain yang serupa juga dibangun oleh Belanda—satu di negaranya sendiri (kini menjadi museum) dan satu lagi di Kepulauan Karibia. Hal ini menandakan pentingnya posisi strategis Pulo Aceh bagi jaringan maritim kolonial Belanda di abad ke-19.
Menara yang Masih Bekerja
Lebih dari seratus tahun berlalu, mercusuar ini masih berfungsi dengan baik. Lampu utamanya tetap memancarkan cahaya sejauh puluhan mil laut, menjadi panduan bagi kapal yang melintas di perairan barat Aceh.
Dikelola oleh petugas navigasi dari Distrik Navigasi Sabang, Willem’s Toren III kini juga menjadi lokasi pelatihan dan observasi bagi para ahli maritim serta mahasiswa teknik sipil dan kelautan.
“Mercusuar seperti ini bukan hanya warisan sejarah, tapi juga warisan teknologi. Arsitekturnya tahan terhadap cuaca ekstrem, dan konstruksinya menunjukkan kemampuan teknik yang luar biasa pada masa itu,” ujar Djoko.
Selain fungsi maritimnya, mercusuar ini kini menjadi ikon sejarah dan wisata edukatif di Aceh. Banyak peneliti, pelajar, dan wisatawan yang datang untuk melihat langsung keindahan arsitekturnya serta menikmati panorama laut dari puncaknya.
Wisata Sejarah dan Alam Pulau Breueh
Kompleks Mercusuar Willem’s Toren III kini menjadi salah satu destinasi wisata sejarah yang menarik di Aceh. Dari puncak menara, pengunjung bisa melihat panorama spektakuler: hamparan Samudra Hindia di satu sisi, dan hijau tropis Pulau Breueh di sisi lain.
Namun, perjalanan menuju lokasi tidak mudah. Akses menuju Pulau Breueh masih mengandalkan kapal motor dari Sabang dengan waktu tempuh sekitar empat jam, atau dari Pelabuhan Ulee Lheue di Banda Aceh sekitar tiga jam.
Setibanya di pulau, kapal penumpang belum bisa merapat langsung ke dermaga. Perahu kecil digunakan untuk menurunkan penumpang ke Dermaga Ujong Peuneung, sebelum melanjutkan perjalanan darat sekitar 30 menit menuju lokasi mercusuar menggunakan mobil bak terbuka.
Djoko menilai, kondisi ini perlu segera diperbaiki agar potensi wisata sejarah di pulau ini bisa berkembang lebih baik.
“Pembangunan dermaga dan peningkatan akses jalan menuju mercusuar sangat diperlukan. Pemerintah daerah dan swasta bisa berkolaborasi menyediakan kapal cepat serta sarana transportasi darat yang memadai,” katanya.
Jalan menuju mercusuar saat ini beraspal kasar, berkelok, dan menanjak tajam. Di sepanjang perjalanan, hanya hutan lebat yang menemani. Pemukiman penduduk sangat jarang ditemukan, menandakan betapa terpencilnya lokasi menara tua tersebut.
Potensi Besar yang Belum Tersentuh
Pulau Breueh atau Pulau Beras sebenarnya menyimpan potensi wisata besar. Selain mercusuar, pulau ini menawarkan pantai berpasir putih, perairan jernih berwarna biru kehijauan, serta spot snorkeling dan memancing yang memikat.
Bagi pecinta petualangan, perjalanan menuju Willem’s Toren adalah pengalaman yang tidak terlupakan—menembus ombak besar, mendaki jalan menanjak, lalu disambut panorama laut dari puncak menara yang menakjubkan.
Menurut Djoko, pengembangan Pulau Breueh harus dimulai dari infrastruktur dasar.
“Langkah pertama adalah memperpanjang Dermaga Ujong Peuneung agar kapal motor dan kapal cepat bisa merapat langsung. Selanjutnya, perbaiki total jalan menuju mercusuar dan sediakan transportasi lokal yang layak. Kalau ini bisa dilakukan, Pulau Breueh bisa jadi destinasi wisata sejarah dan bahari unggulan di Aceh,” paparnya.
Selain itu, ketersediaan penginapan yang nyaman dan fasilitas wisata pendukung juga penting agar wisatawan bisa menikmati pesona pulau ini lebih lama.
Warisan yang Menyala Sepanjang Zaman
Kini, lebih dari seratus lima puluh tahun sejak pertama kali dibangun, Willem’s Toren III tetap berdiri kokoh di tengah terpaan angin dan ombak. Dindingnya yang tebal masih menahan waktu, dan lampu suarnya terus menyala setiap malam, menandai bahwa mercusuar ini belum berhenti menjalankan tugasnya.
Bagi masyarakat Aceh, Willem’s Toren bukan hanya peninggalan kolonial, melainkan bagian dari identitas maritim Nusantara. Ia menjadi simbol ketahanan dan sejarah panjang perjuangan rakyat Aceh dalam mempertahankan tanah air dari penjajahan.
Pulau Breueh kini menjadi surga tersembunyi bagi mereka yang mencari keindahan dan kedamaian. Laut biru yang berkilau, hutan tropis yang rimbun, dan desir angin dari puncak Willem’s Toren menghadirkan ketenangan yang sulit ditemukan di tempat lain.
Di sanalah, di ujung barat Nusantara, cahaya tua dari Willem’s Toren III masih berpendar—menjadi saksi bisu sejarah panjang, penuntun bagi pelaut, dan pengingat bahwa Indonesia adalah negeri yang dibangun di atas samudra, cahaya, dan keteguhan waktu.
Penulis : lazir
Editor : ameri






