INDRAGIRI HULU — Jalan berlumpur dan nyaris tak bisa dilalui tak menyurutkan semangat warga Desa Siambul dan Rantau Langsat di Kecamatan Batang Gansal, Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), Riau. Lewat gotong royong, mereka membangun jalur darurat dari susunan batang kayu—satu-satunya cara agar tetap bisa terhubung di tengah keterisolasian yang semakin parah.
Jalan tersebut merupakan akses vital yang menghubungkan dua desa serta menjadi rute utama bagi masyarakat adat Talang Mamak dan Melayu Tua. Namun, kondisinya sudah lama rusak parah, terutama saat musim hujan. Lumpur tebal sering membuat kendaraan dan pejalan kaki terjebak, bahkan anak-anak pun terpaksa absen sekolah karena tak bisa melintas.
“Ini satu-satunya jalan kami. Kalau hujan deras, anak-anak nggak bisa sekolah. Motor pun tenggelam di lumpur,” ujar Hendri, salah satu warga yang ikut dalam aksi gotong royong saat dihubungi, Selasa (20/5/2024).
Ia menyebut, selama dua periode kepemimpinan bupati terakhir, belum ada realisasi nyata untuk memperbaiki jalan tersebut. “Sudah dua kali ganti bupati, jalan ini tetap begini. Seperti tak ada yang peduli,” tambahnya.
Warga menyusun batang-batang kayu sepanjang beberapa meter di atas permukaan jalan berlumpur untuk menciptakan jalur darurat yang bisa dilalui sepeda motor atau berjalan kaki. Meski bersifat sementara, solusi ini dianggap penting agar akses antar-desa tidak sepenuhnya terputus.
“Kami bukan cuma minta jalan, kami minta hak kami sebagai warga negara. Pendidikan anak-anak kami, ekonomi keluarga kami, semua tergantung dari jalan ini,” ucap Hendri, menekankan betapa pentingnya infrastruktur dasar bagi kehidupan masyarakat desa.
Kerusakan jalan ini bukan hanya menghambat mobilitas harian, tetapi juga berdampak luas pada akses pendidikan, layanan kesehatan, dan distribusi bahan pangan. Sejumlah tokoh adat dan masyarakat turut menyuarakan keprihatinan mereka. Mereka mendesak agar pemerintah daerah segera turun tangan, bukan hanya dengan janji, tapi juga aksi nyata.
“Kondisi seperti ini sudah bertahun-tahun. Kami ingin pemerintah buka mata, jangan hanya fokus ke daerah kota. Kami yang di pinggiran ini juga butuh pembangunan,” kata seorang tokoh adat yang enggan disebut namanya.
Masyarakat berharap, dengan perhatian dari pemangku kepentingan, termasuk pemerintah daerah dan legislatif, perbaikan jalan dapat segera terwujud. Infrastruktur yang layak diyakini menjadi kunci utama untuk mengangkat kesejahteraan warga desa yang selama ini hidup dalam keterbatasan.
“Ini bukan hanya soal jalan, ini soal harapan dan masa depan anak-anak kami. Kami akan terus gotong royong, tapi kami juga ingin pemerintah bergerak,” tutup Hendri dengan nada tegas.






