RENTAK.ID – Fenomena drama Korea (Drakor) dalam politik Indonesia tetap hangat di tengah masyarakat.
Menjadi pertanyaan mengapa politik Indonesia memiliki ‘Drakor’ dan apa dampak negatif yang diakibatkannya pada politik nasional.
Drakor tak hanya merajai industri hiburan, tapi juga berdampak pada berbagai aspek kehidupan, termasuk politik.
Fenomena ‘Drakor’ dalam politik Indonesia bukanlah sesuatu yang aneh bagi masyarakat luas. Fenomena ini mencerminkan bagaimana politik Indonesia kini bergelimang dengan intrik, persaingan, dan drama seperti yang disuguhkan dalam sinetron-sinetron Korea.
Mengapa politik Indonesia memiliki ‘Drakor’? Seorang politisi tidak jauh berbeda dari aktor atau aktris dalam sebuah drama. Mereka harus tampil di depan publik dan berkompetisi untuk memikat perhatian massa.
Banyak politisi yang merasa ‘berakting’ sebagai sesuatu yang wajar dalam menjalani kariernya. Ironisnya, situasi ini telah menjadi bagian dari lanskap politik Indonesia saat ini.
Salah satu alasan mengapa politik Indonesia diibaratkan seperti drama Korea adalah popularitas ‘Drakor’ di kalangan masyarakat. Serial drama Korea kerap menampilkan konflik, romansa, dan intrik yang menarik perhatian penonton, mirip seperti drama politik yang terjadi di Indonesia.
Selain itu, kemiripan antara politik Indonesia dan drama Korea juga terletak pada adanya ‘tokoh’ yang menjadi pusat perhatian, seperti misalnya politisi atau partai politik tertentu.
Dampak Negatif ‘Drakor’ dalam Politik Nasional Indonesia Dengan adanya fenomena ‘Drakor’ dalam politik nasional Indonesia, muncul berbagai dampak negatif yang perlu kita waspadai. Berikut beberapa dampak negatif yang diakibatkan oleh fenomena tersebut:
Politisi menjadi lebih fokus pada pencitraan daripada substansi. Politisi yang terjebak dalam fenomena ‘Drakor’ cenderung lebih mementingkan citra mereka di mata publik daripada kinerja dan kontribusi nyata bagi rakyat.
Hal ini menciptakan politisi yang tidak efektif dan tidak responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
Tidak ada keseriusan dalam menangani masalah bangsa. Drama politik yang penuh intrik dan persaingan cenderung mengalihkan perhatian dari masalah-masalah nyata yang memerlukan tindakan dan solusi. Sebagai akibatnya, banyak masalah yang menjadi tanggung jawab para politisi justru tidak terselesaikan dengan baik.
Memecah belah persatuan bangsa. Fenomena ‘Drakor’ dalam politik Indonesia juga bisa menimbulkan perpecahan di kalangan masyarakat.
Ketika politik dipenuhi dengan drama dan intrik, masyarakat cenderung terpecah menjadi kelompok-kelompok yang saling berseteru demi mendukung ‘tokoh’ favorit mereka.
Fenomena ‘Drakor’ dalam politik Indonesia adalah gambaran yang membuat kita introspeksi tentang kemana arah politik kita saat ini.






