SERDANG BEDAGAI – Dentuman petir yang tiba-tiba menghantam bagian belakang sampan menjadi awal tragedi yang merenggut nyawa dua nelayan tradisional di perairan Serdang Bedagai (Sergai), Sumatera Utara, Kamis (5/11/2026) dini hari.
Jong Kawadi (48) dan Dila (40), dua nelayan yang selamat dari peristiwa tersebut, masih diliputi trauma. Keduanya menyaksikan langsung bagaimana tiga rekan mereka tergeletak tak bergerak setelah petir menyambar sampan yang mereka tumpangi.
Saat ditemui di rumah duka, Kamis, Jong menceritakan kejadian itu bermula ketika lima nelayan asal Kampung Buantan, Desa Pekan, Kecamatan Tanjung Beringin, sedang mencari ikan di kawasan Tuasan Tamban.
Lokasi mereka melaut berjarak sekitar sembilan mil dari bibir pantai. Saat itu, hujan deras disertai angin kencang mengguyur kawasan perairan. Sampan mereka sedang bertambat, sedangkan jaring masih berada di dasar laut.
Di tengah kondisi cuaca yang tidak bersahabat, para nelayan memilih beristirahat di atas sampan. Namun, suasana mendadak berubah ketika suara guntur keras disusul sambaran petir menghantam bagian belakang perahu.
“Saat itu kami sedang istirahat sambil bertambat, jaring masih berada di dasar laut. Tiba-tiba petir dengan keras menghantam bagian belakang sampan,” kata Jong dengan mata berkaca-kaca.
Setelah suara petir mereda, Jong mendekati bagian belakang sampan, tepatnya di sekitar kemudi, untuk memeriksa kondisi rekan-rekannya.
Betapa terkejutnya dia saat mendapati tiga nelayan yang berada di bagian belakang sudah tergeletak dan tidak bergerak.
Jong bersama Dila berusaha membangunkan ketiganya. Namun, upaya tersebut tidak membuahkan hasil.
Dalam situasi panik dan ketakutan, keduanya akhirnya memutuskan memotong tali jaring yang masih terpasang di laut. Sampan kemudian diarahkan menuju perahu nelayan lain yang berada tidak jauh dari lokasi kejadian.
Setelah bertemu nelayan lain, Jong menanyakan arah untuk kembali ke daratan melalui Kuala Bedagai. Berbekal petunjuk tersebut, ia dan Dila segera mengarahkan sampan menuju Kuala Tanjung Beringin.
Nahas, dua dari tiga nelayan yang tersambar petir tidak berhasil diselamatkan. Mereka adalah Khamsani (24), yang bertugas sebagai tekong atau nakhoda sampan, serta Ahmad Tahir (35), warga Dusun I Keramat Asam, Desa Pekan.
Sementara itu, Abdul Rahim (21), warga Dusun IV Kampung Buantan, masih dalam kondisi kritis dan tidak sadarkan diri. Ia mendapatkan perawatan medis di rumahnya yang berada tidak jauh dari Puskesmas Tanjung Beringin.
Adapun Jong dan Dila berhasil selamat dari kejadian tersebut.
Kabar duka itu menyisakan kesedihan bagi keluarga dan warga Kampung Buantan. Kedua korban meninggal dunia telah dimakamkan pada Kamis sore. Kapolsek Tanjung Beringin juga terlihat mendatangi rumah duka setelah pemakaman.
Tragedi ini memperlihatkan betapa besar risiko yang harus dihadapi nelayan tradisional saat mencari nafkah di laut, terlebih ketika hujan lebat, angin kencang, dan petir datang secara tiba-tiba.
Penulis : andy ebiet
Editor : ameri






