JAKARTA – Pelemahan nilai tukar rupiah hingga menembus Rp18.108 per dolar Amerika Serikat (AS) menjadi perhatian pengamat ekonomi dan mantan anggota DPR RI periode 2014–2024, Hafisz Tohir.
Ia menilai tekanan terhadap rupiah perlu direspons melalui pemulihan kepercayaan pasar, penguatan koordinasi kebijakan ekonomi, serta perlindungan bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Hafisz mengatakan, pelemahan rupiah tidak bisa hanya dilihat sebagai persoalan pasar keuangan. Dampaknya berpotensi merembet ke sektor usaha dan rumah tangga, terutama melalui kenaikan harga bahan baku impor yang digunakan pelaku UMKM.
“Rupiah bukan sekadar angka di layar Bloomberg. Di Pasar Cinde, rupiah adalah harga cabai, tempe, dan ongkos ojek. Menjaga rupiah berarti menjaga dapur rakyat,” kata Hafisz dalam keterangannya, Selasa (27/10/2026).
Pada Senin (26/10/2026), rupiah tercatat berada di level Rp18.108 per dolar AS dan sempat menyentuh Rp18.135 dalam perdagangan intraday, berdasarkan data Refinitiv dan Bloomberg yang dirujuk Hafisz. Sepanjang 2026, rupiah disebut telah melemah sekitar 8–8,6 persen.
Menurut dia, pelemahan tersebut perlu dicermati karena terjadi ketika yuan China justru berada pada posisi terkuat dalam empat tahun terakhir. Kondisi itu, dalam pandangannya, menjadi salah satu petunjuk bahwa tekanan terhadap rupiah tidak semata-mata berasal dari faktor eksternal.
“Ini memberi sinyal bahwa tekanan yang kita hadapi lebih banyak dipengaruhi faktor domestik, khususnya premi risiko dan persepsi kepercayaan pasar,” ujarnya.
Hafisz juga merujuk pandangan ekonom CORE Indonesia, Yusuf Rendy, yang menilai tekanan terhadap rupiah kali ini lebih banyak bersumber dari dalam negeri. Karena itu, ia mendorong pemerintah dan otoritas terkait mengevaluasi faktor-faktor domestik yang memengaruhi persepsi investor.
Arus Modal Asing Keluar Rp92,09 Triliun
Hafisz mengidentifikasi sejumlah persoalan yang dinilainya perlu mendapat perhatian serius. Salah satunya adalah isu MSCI terkait potensi perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia yang menjadi perhatian pelaku pasar.
Selain itu, ia menyoroti arus keluar modal asing yang disebut mencapai Rp92,09 triliun hingga 21 Oktober 2026. Angka tersebut, menurut dia, menunjukkan perlunya upaya lebih kuat untuk menjaga kepercayaan investor terhadap pasar keuangan Indonesia.
Tekanan terhadap rupiah juga diperberat oleh likuiditas dolar AS di pasar spot yang menipis.
Hafisz mengaitkan kondisi tersebut dengan koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sebelumnya turut menjadi perhatiannya. Ia menilai pelemahan pasar saham dan tekanan terhadap rupiah perlu dibaca sebagai persoalan yang saling berkaitan, terutama dalam hal persepsi risiko dan kepercayaan pasar.
“ Akar persoalannya sama: kepercayaan pasar yang perlu kita pulihkan bersama,” kata Hafisz.
Meski demikian, ia mengapresiasi langkah Bank Indonesia (BI) yang mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75 persen serta melakukan intervensi di pasar spot, non-deliverable forward (NDF), dan domestic non-deliverable forward (DNDF).
Menurut Hafisz, langkah BI tersebut perlu diperkuat dengan koordinasi kebijakan fiskal dan moneter agar upaya stabilisasi rupiah berjalan lebih efektif.
Rupiah Melemah, UMKM Berisiko Tertekan
Bagi Hafisz, dampak pelemahan rupiah tidak berhenti pada transaksi di pasar keuangan. Pelaku UMKM yang bergantung pada bahan baku impor berpotensi menghadapi kenaikan biaya produksi ketika harga dolar AS semakin mahal.
Ia mencontohkan pelaku usaha di Pasar 16 Ilir dan Pasar Cinde, Palembang, yang dapat merasakan dampak perubahan kurs melalui harga kedelai, suku cadang, obat-obatan, hingga bahan baku lainnya.
“Bagi pasar keuangan di SCBD, angka rupiah adalah indikator. Namun, bagi UMKM di pasar tradisional, rupiah menentukan harga bahan baku dan biaya usaha,” ujarnya.
Tekanan tersebut berpotensi semakin berat apabila kenaikan biaya produksi diikuti penurunan daya beli masyarakat.
Hafisz sebelumnya juga menyoroti rasio konsumsi rumah tangga sebesar 74,9 persen yang, menurut analisisnya, berkaitan dengan penggunaan tabungan untuk menopang kebutuhan sehari-hari. Ia menyebut kondisi itu sebagai pergeseran dari MANTAB menjadi MATANG, singkatan dari “Makan Tabungan”.
Jika harga barang impor kembali meningkat akibat pelemahan rupiah, sementara masyarakat masih mengandalkan tabungan untuk memenuhi kebutuhan, UMKM berisiko menghadapi tekanan dari dua arah: biaya produksi meningkat dan permintaan konsumen melemah.
Hafisz menilai cadangan devisa Indonesia sebesar 146,3 miliar dolar AS merupakan modal penting untuk menjaga stabilitas eksternal. Namun, ia mengingatkan bahwa intervensi pasar perlu berjalan beriringan dengan perbaikan kepercayaan investor.
“Cadangan devisa kita merupakan modal yang kuat. Namun, akan lebih efektif jika diperkuat dengan perbaikan persepsi, bukan hanya mengandalkan intervensi,” katanya.
Tiga Usulan Hafisz untuk Menjaga Rupiah
Untuk merespons tekanan terhadap rupiah, Hafisz menyampaikan tiga usulan kepada pemerintah dan otoritas ekonomi.
Pertama, mempercepat penyelesaian isu MSCI secara transparan.
Menurut Hafisz, pelaku pasar membutuhkan kepastian mengenai persoalan yang berkaitan dengan klasifikasi pasar modal Indonesia. Komunikasi yang jelas dan konsisten dinilai penting untuk mengurangi ketidakpastian serta memulihkan kepercayaan investor.
“Pasar membutuhkan kepastian dan komunikasi yang satu suara. Dengan transparansi, kita bisa mengembalikan kepercayaan investor sehingga intervensi BI tidak bekerja sendirian,” ujarnya.
Kedua, memperkuat koordinasi fiskal dan moneter.
Hafisz mendorong pemerintah, Bank Indonesia, dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperkuat koordinasi dalam merespons tekanan pasar keuangan.
Ia menilai keselarasan kebijakan dan komunikasi yang konsisten dapat memberikan kepastian kepada pelaku pasar bahwa stabilitas ekonomi dikelola secara terukur.
“Rupiah di level Rp18.108 menjadi pengingat bagi kita semua untuk memperkuat koordinasi. Sinergi antara pemerintah, BI, dan OJK akan memberi sinyal bahwa kita mengelola ekonomi secara hati-hati dan kompak,” katanya.
Ketiga, menghadirkan jaring pengaman bagi UMKM.
Hafisz mengusulkan dukungan yang lebih terarah bagi UMKM yang terdampak kenaikan biaya produksi, antara lain melalui subsidi bunga Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang tepat sasaran, kepastian pasokan bahan baku impor, serta insentif logistik.
Menurut dia, kebijakan stabilisasi rupiah perlu disertai langkah konkret untuk menjaga keberlangsungan usaha kecil agar tekanan nilai tukar tidak semakin membebani perekonomian masyarakat.
Menjaga Rupiah Berarti Menjaga Daya Beli
Hafisz menegaskan, kritik yang disampaikannya merupakan masukan agar pemerintah dan otoritas ekonomi dapat memperkuat respons terhadap tekanan nilai tukar.
Ia berharap langkah stabilisasi rupiah tidak hanya berorientasi pada pasar keuangan, tetapi juga mempertimbangkan dampaknya terhadap kegiatan usaha, lapangan kerja, dan daya beli masyarakat.
“Kritik ini kami sampaikan bukan untuk melemahkan, tetapi untuk memperkuat. Kita semua berada di kapal yang sama, ingin ekonomi Indonesia tumbuh berkeadilan, berkelanjutan, dan berpihak pada usaha kecil rakyat,” ujarnya.
Bagi Hafisz, menjaga stabilitas rupiah pada akhirnya bukan hanya soal mempertahankan nilai tukar terhadap dolar AS. Upaya tersebut juga berkaitan dengan kemampuan UMKM bertahan, menjaga harga kebutuhan sehari-hari, dan melindungi daya beli masyarakat di tengah tekanan ekonomi.
Penulis : lazir
Editor : ameri






