JAKARTA – Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang menembus 5 persen dinilai belum sepenuhnya mencerminkan kondisi masyarakat di tingkat bawah. Di tengah capaian makroekonomi yang positif, tabungan rumah tangga tergerus, pekerjaan informal masih mendominasi, dan kepercayaan investor terhadap pasar modal menghadapi tantangan.
Pengamat ekonomi dan keuangan sekaligus mantan anggota DPR RI periode 2014–2024, Hafisz Tohir, menilai pemerintah perlu memastikan pertumbuhan ekonomi benar-benar dirasakan masyarakat, terutama pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta kelas menengah.
“Di tengah angka makro yang baik, senyum pelaku UMKM adalah cerminan ketangguhan rakyat kecil. Senyum seperti inilah yang harus kita jaga,” kata Hafisz, merujuk pada foto bersama pelaku UMKM yang diambilnya di Palembang pada September 2023 lalu, dikutip, Senin (26/10/2026)
Menurut dia, pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,29 persen pada kuartal II 2026 dan 5,45 persen pada semester I menjadi modal penting di tengah perlambatan ekonomi global. Namun, capaian tersebut perlu diikuti perbaikan daya beli dan kondisi ekonomi rumah tangga.
Hafisz menyebut fenomena tersebut sebagai vibecession, yakni kondisi ketika persepsi dan pengalaman masyarakat terhadap perekonomian terasa lebih buruk dibandingkan gambaran yang ditunjukkan indikator makroekonomi.
Tabungan Menipis, Masyarakat Mulai Terdesak Utang
Hafisz menyoroti tekanan ekonomi yang dirasakan rumah tangga, mulai dari kenaikan harga pangan hingga pertumbuhan upah riil yang belum memadai.
Mengutip data BPS dan INDEF, ia menyebut pertumbuhan upah riil berada di angka 1,7 persen, sementara kenaikan harga pangan bergejolak masih di atas 5 persen. Kondisi tersebut berpotensi mengurangi kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Ia juga menyoroti penurunan saldo tabungan kelompok masyarakat dengan simpanan di bawah Rp100 juta, dari Rp2,27 juta menjadi Rp1,66 juta.
Menurut Hafisz, kondisi ini menggambarkan perubahan kemampuan rumah tangga dalam mempertahankan konsumsi.
“Awalnya masyarakat masih bisa bertahan dengan makan tabungan atau MANTAB. Namun, ketika simpanan terus terkikis, sebagian rumah tangga berisiko masuk ke fase makan utang atau MATANG,” ujarnya.
Selain itu, sekitar 60 persen tenaga kerja disebut masih berada di sektor informal, sedangkan proporsi pekerja paruh waktu meningkat menjadi 26 persen.
Hafisz mengingatkan, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena konsumsi rumah tangga menyumbang sekitar 53 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia.
“Jika daya beli rumah tangga melemah, dampaknya tidak hanya dirasakan masyarakat, tetapi juga dunia usaha dan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan,” katanya.
IHSG Anjlok, Hafisz Soroti Kepercayaan Investor
Persoalan lain yang menjadi perhatian Hafisz adalah tekanan di pasar modal. Ia menyoroti penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 31,35 persen secara year-to-date (YTD) yang disebutnya sebagai sinyal serius bagi tata kelola pasar modal Indonesia.
Menurut Hafisz, tekanan tersebut tidak cukup dijelaskan hanya dari kondisi perekonomian nasional. Transparansi, kredibilitas pembentukan harga saham, dan perlindungan investor juga perlu mendapat perhatian.
Ia menyinggung pembekuan atau freeze oleh MSCI sejak Januari 2026 terkait persoalan transparansi pasar, termasuk isu kepemilikan saham dan free float sejumlah emiten seperti BREN, DSSA, TPIA, BYAN, dan CUAN.
Hafisz juga menyebut arus keluar dana asing mencapai Rp111,27 triliun atau sekitar US$4,7 miliar. Menurut dia, kondisi tersebut memperkuat urgensi pembenahan tata kelola pasar modal.
“Pasar modal membutuhkan kepercayaan. Transparansi kepemilikan, keterbukaan informasi, dan pembentukan harga yang kredibel harus menjadi fondasi agar investor merasa terlindungi,” ujarnya.
Ia mengapresiasi langkah otoritas yang disebutnya mencakup sanksi OJK senilai Rp2,1 triliun, serta kebijakan BEI mengeluarkan 80 saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau HSC dari perhitungan IHSG dan menaikkan batas minimum free float menjadi 15 persen.
Namun, Hafisz menekankan pentingnya konsistensi penegakan aturan agar reformasi pasar modal dapat memulihkan kepercayaan investor.
UMKM Perlu Menyesuaikan Strategi dengan Perubahan Konsumen
Di sektor riil, Hafisz mengingatkan pelaku usaha agar tidak hanya berpatokan pada pertumbuhan konsumsi, tetapi juga mencermati perubahan perilaku belanja masyarakat.
Ia menilai sebagian konsumen mulai melakukan down-trading, yakni beralih ke produk yang lebih murah untuk menyesuaikan pengeluaran dengan kemampuan keuangan.
Perubahan tersebut menuntut pelaku bisnis untuk lebih cermat dalam menentukan harga, menjaga kualitas, dan menawarkan produk sesuai kebutuhan konsumen.
“Bisnis yang mampu membantu masyarakat berhemat akan memiliki peluang untuk bertahan. Pelaku usaha perlu memahami bahwa konsumen kini semakin selektif dalam membelanjakan uangnya,” kata Hafisz.
Menurut dia, penguatan UMKM juga membutuhkan dukungan berupa akses bahan baku dengan harga terjangkau, kepastian pasar, serta kebijakan yang membantu usaha kecil berkembang dan menyerap tenaga kerja.
Hafisz Dorong Reformasi Pasar Modal dan Perlindungan Daya Beli
Hafisz meminta otoritas pasar modal menuntaskan pembenahan tata kelola secara konsisten. Ia mendorong keterbukaan informasi mengenai pemilik saham yang terafiliasi, penegakan ketentuan free float minimum 15 persen, serta penuntasan kasus pelanggaran hingga pihak yang bertanggung jawab.
Di sisi lain, pemerintah perlu memperkuat kebijakan fiskal dan moneter untuk menjaga daya beli masyarakat. Salah satu langkah yang disorot adalah memperbaiki distribusi pangan agar biaya yang ditanggung konsumen tidak semakin tinggi.
Hafisz juga mengingatkan agar dukungan ekonomi tidak hanya diarahkan kepada kelompok miskin ekstrem, tetapi turut memperhatikan kelas menengah yang berperan besar dalam menopang konsumsi nasional.
“Jangan sampai kelas menengah yang selama ini menjadi penopang konsumsi justru semakin tertekan. Ketika kemampuan belanja mereka turun, dampaknya akan menjalar ke berbagai sektor usaha,” ujarnya.
Selain itu, ia mendorong kemudahan bagi UMKM untuk naik kelas dan perluasan kesempatan kerja formal bagi lulusan diploma maupun sarjana.
Menurut Hafisz, pertumbuhan ekonomi perlu diikuti penciptaan pekerjaan yang lebih stabil dan produktif, bukan sekadar peningkatan jumlah orang yang bekerja tanpa kepastian pendapatan.
Pertumbuhan Ekonomi Harus Terasa hingga ke Akar Rumput
Hafisz menegaskan, capaian pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen perlu diterjemahkan menjadi peningkatan kesejahteraan yang nyata. Indikator makroekonomi tetap penting, tetapi harus berjalan beriringan dengan perbaikan kondisi rumah tangga, penciptaan lapangan kerja, dan penguatan dunia usaha.
“Jangan biarkan pertumbuhan 5 persen hanya menjadi angka indah di atas kertas. Di pasar, masih ada ibu-ibu yang harus menghitung uang receh untuk membeli telur. Di bursa, investor ritel juga menghadapi risiko kerugian,” katanya.
Ia menilai keberhasilan ekonomi seharusnya tidak hanya diukur dari tingginya pertumbuhan, tetapi juga dari kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan pokok dan menjaga keberlangsungan usaha.
“Ekonomi yang kuat bukan sekadar ekonomi yang tumbuh tinggi di atas kertas, melainkan ekonomi yang mampu menjaga senyum pelaku UMKM agar tetap bertahan,” ujar Hafisz.
Bagi Hafisz, menjaga daya beli rakyat, memperkuat UMKM, memperluas pekerjaan formal, dan memulihkan kepercayaan investor merupakan bagian dari pekerjaan besar agar pertumbuhan ekonomi benar-benar dirasakan hingga ke akar rumput..
Penulis : lazir
Editor : ameri






