JAKARTA – Dunia kerja yang terus berubah akibat perkembangan teknologi dan otomatisasi membuat perguruan tinggi dituntut semakin adaptif. Lulusan tidak cukup hanya mengandalkan ijazah dan kemampuan akademis, tetapi juga harus memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri.
Kondisi tersebut mendorong Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) memperkuat kolaborasi dengan perguruan tinggi. Salah satunya melalui kerja sama dengan Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma (Unsurya) untuk memperkuat keterkaitan antara pendidikan tinggi dan kebutuhan pasar kerja.
Kerja sama itu ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman Bersama (MoU) di Jakarta, Jumat (4/9/2026). MoU ditandatangani Sekretaris Jenderal Kemnaker Cris Kuntadi bersama Rektor Unsurya Sungkono.
Cris mengatakan, perubahan struktur industri yang berlangsung cepat harus direspons dengan perubahan pola pendidikan. Perguruan tinggi, kata dia, perlu memastikan kompetensi lulusan benar-benar relevan dengan kebutuhan dunia profesional.
“Lembaga pendidikan juga perlu membekali mahasiswa dengan keterampilan terapan, kemampuan beradaptasi, serta karakter yang sesuai dengan tuntutan dunia profesional,” ujar Cris.
Menurutnya, tantangan ketenagakerjaan saat ini bukan hanya soal ketersediaan lapangan kerja, tetapi juga kesesuaian antara kompetensi pencari kerja dengan kebutuhan perusahaan.
Karena itu, kerja sama Kemnaker dan Unsurya diarahkan untuk mengurangi kesenjangan kompetensi atau mismatch yang masih menjadi salah satu tantangan ketika lulusan perguruan tinggi memasuki pasar kerja.
“Kerja sama Kemnaker dengan Unsurya dapat memperkuat link and match antara pendidikan tinggi dengan kebutuhan pasar kerja dan dunia industri,” katanya.
Cris menjelaskan, kolaborasi kedua pihak tidak berhenti pada hubungan kelembagaan. Sejumlah bidang strategis akan dikembangkan bersama, mulai dari pengembangan kompetensi sumber daya manusia hingga pemanfaatan sistem informasi pasar kerja.
Kerja sama tersebut juga mencakup penyelenggaraan pelatihan dan sertifikasi profesi. Dengan demikian, mahasiswa maupun lulusan diharapkan tidak hanya memiliki pengetahuan teoritis, tetapi juga kompetensi yang dapat dibuktikan melalui sertifikasi sesuai bidang pekerjaan.
Selain itu, Kemnaker dan Unsurya akan membuka ruang pertukaran pengetahuan antara kalangan akademisi dan praktisi. Kolaborasi tersebut dinilai penting agar dunia pendidikan memperoleh gambaran yang lebih dekat mengenai kebutuhan industri dan perkembangan pasar kerja.
Di sisi lain, hasil kajian akademis yang berbasis data empiris diharapkan dapat memberikan masukan bagi pemerintah dalam merumuskan kebijakan ketenagakerjaan.
Pendekatan berbasis data tersebut dinilai dapat membantu menghasilkan kebijakan yang lebih relevan dengan kondisi di lapangan, termasuk dalam menghadapi perubahan kebutuhan tenaga kerja akibat digitalisasi dan otomatisasi.
Cris berharap MoU yang telah ditandatangani tidak berhenti sebagai agenda seremonial. Ia mendorong agar kesepakatan tersebut segera diterjemahkan menjadi program nyata yang memberikan manfaat langsung.
“Saya berharap kerja sama ini tidak berhenti pada kegiatan seremonial penandatanganan semata, tetapi dapat ditindaklanjuti dalam bentuk program kerja yang konkret, terukur, dan memberikan manfaat nyata bagi mahasiswa, lulusan, maupun dunia usaha dan industri,” tutup Cris.
Kerja sama Kemnaker dan Unsurya ini menjadi bagian dari upaya memperkuat link and match pendidikan dengan dunia kerja. Di tengah perubahan teknologi yang semakin cepat, sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan industri menjadi semakin penting untuk memastikan lulusan memiliki kompetensi yang dibutuhkan pasar kerja.
Penulis : lazir
Editor : ameri






