Proyek Feeder LRT Harjamukti-Mekarsari Masuk Babak Baru, Investor Swasta Bidik Sejumlah Kota Besar di Indonesia

- Penulis

Rabu, 5 Agustus 2026 - 19:47 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Transportasi modren dari Belarus (Dok. Minsky Cakrawala Nusa)

Transportasi modren dari Belarus (Dok. Minsky Cakrawala Nusa)

JAKARTA – Rencana pembangunan Feeder LRT Harjamukti-Mekarsari di Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor, memasuki tahapan penting. PT Minsky Cakrawala Nusa resmi menyerahkan dokumen Laporan Akhir Studi Kelayakan (Feasibility Study/FS) proyek Elevated Light Rail Transport (ELRT) kepada Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan.

Penyerahan dokumen tersebut menjadi langkah awal untuk mendorong realisasi proyek transportasi berbasis rel layang yang dikembangkan bersama Unitsky Group of Companies asal Belarus. Teknologi ini menawarkan konsep kereta rel layang atau skytrain dengan kebutuhan lahan yang jauh lebih kecil dibandingkan jalur kereta konvensional.

Presiden Direktur PT Minsky Cakrawala Nusa, Sammy Soru, ST, mengatakan proyek ini sepenuhnya dibiayai oleh investasi swasta sehingga membutuhkan komitmen kuat dari pemerintah daerah, terutama dalam mendukung proses perizinan.

“Kami menawarkan proyek ini kepada kepala daerah tanpa menggunakan APBN. Yang kami butuhkan adalah komitmen pemerintah daerah, terutama dalam proses perizinan dan dukungan politik. Kami datang membawa investasi 100 persen swasta, sehingga kami berharap ada keseriusan dari kepala daerah agar proyek dapat berjalan,” ujar Sammy disela  pameran di acara MTI di  Hotel Millennium Jakarta, Rabu (5/8/2026).

Presiden Direktur PT Minsky Cakrawala Nusa, Sammy Soru saat jelaskan proyek Harjamukti-Cileungsi (foto.lazir)

Menurutnya, respons dari sejumlah pemerintah daerah cukup positif. Ia menyebut sudah lebih dari sepuluh daerah menyatakan ketertarikannya terhadap teknologi transportasi tersebut.

“Banyak kepala daerah yang sudah merespons dengan baik. Kabupaten Bogor, Manado, Kota Bekasi, Kota Banjarmasin hingga Padang sudah menunjukkan minat. Tinggal kami jalankan satu per satu sesuai kesiapan masing-masing daerah,” katanya.

Sammy mengungkapkan, Batam menjadi salah satu wilayah yang sejak awal menjadi target pengembangan karena dinilai memiliki potensi besar sebagai kota internasional. Namun hingga kini respons dari pemerintah daerah setempat belum sesuai harapan.

“Batam sebenarnya menjadi incaran kami karena merupakan gerbang internasional Indonesia dan selalu dibandingkan dengan Singapura. Saya sudah lebih dulu datang ke sana, tetapi sampai sekarang responsnya belum berkembang. Kalau memang belum ada kepastian, kami fokus ke daerah lain yang lebih siap,” jelasnya.

Ia menambahkan, perusahaan memang memprioritaskan kota-kota besar yang memiliki pertumbuhan ekonomi tinggi dan kebutuhan transportasi massal yang semakin meningkat.

Solusi Transportasi Berbiaya Lebih Efisien

Sammy menjelaskan teknologi ELRT dirancang sebagai alternatif pembangunan transportasi massal dengan biaya investasi yang jauh lebih rendah dibandingkan kereta rel konvensional.

Menurutnya, konsep rel layang memungkinkan pembangunan dengan bentang antar tiang mencapai 300 hingga 400 meter, sehingga kebutuhan pembebasan lahan dapat ditekan secara signifikan.

“Kalau kereta konvensional, seluruh jalur harus dibebaskan lahannya. Sementara teknologi kami hanya membutuhkan lahan pada titik-titik tiang penyangga. Bahkan jika memanfaatkan median jalan, kebutuhan lahannya menjadi jauh lebih kecil,” ujarnya.

Shelter atau stasiun juga dirancang berada di atas median jalan dengan akses menggunakan tangga maupun eskalator sehingga tidak mengganggu lalu lintas di bawahnya.

“Halte berada di ruang atas, sedangkan tiang penyangga memanfaatkan median jalan. Jadi penggunaan lahannya sangat efisien dan tetap ramah terhadap ruang perkotaan,” kata Sammy.

Target Dukung Infrastruktur Indonesia Emas 2045

Sammy menilai kebutuhan transportasi massal di Indonesia masih sangat besar. Ia merujuk rencana pengembangan jaringan perkeretaapian nasional yang membutuhkan ribuan kilometer jalur baru.

Menurutnya, keterbatasan anggaran pemerintah membuka peluang bagi investasi swasta untuk mengambil peran dalam pembangunan infrastruktur transportasi.

“Pemerintah membutuhkan investasi yang sangat besar untuk membangun jaringan kereta api baru. Karena itu swasta harus hadir dengan teknologi yang lebih efisien agar pembangunan tetap bisa berjalan tanpa membebani anggaran negara,” tuturnya.

Ia menegaskan pendekatan yang digunakan perusahaan berorientasi pada efisiensi investasi, tanpa mengurangi kualitas layanan transportasi.

Interval Kurang dari Satu Menit

Untuk proyek Feeder LRT Harjamukti-Mekarsari, Sammy mengungkapkan lintasan sepanjang sekitar 12,8 kilometer dirancang menggunakan puluhan kabin berkapasitas sekitar 25 penumpang yang beroperasi secara terus-menerus.

Dengan sistem tersebut, interval kedatangan antarkabin diproyeksikan kurang dari satu menit sehingga penumpang tidak perlu menunggu lama.

“Kabin akan terus berputar dengan interval di bawah satu menit. Penumpang tidak perlu menunggu lama seperti kereta konvensional. Begitu satu kabin berangkat, beberapa detik kemudian kabin berikutnya sudah datang,” jelasnya.

Ia mengatakan sistem kabin berkapasitas kecil juga lebih hemat energi dibandingkan rangkaian kereta besar.

“Kalau kereta besar berkapasitas 500 orang tetapi penumpangnya sedikit, energi yang dikeluarkan tetap besar. Sementara sistem kami berangkat saat kabin penuh dengan kapasitas yang lebih kecil, sehingga jauh lebih efisien. Pada jam sibuk interval diperpendek, sedangkan saat sepi disesuaikan agar konsumsi energi tetap optimal,” pungkas Sammy.

Penulis : lazir

Editor : ameri

Berita Terkait

55 Persen Perjalanan Bus Terindikasi Melanggar, Penyimpangan Trayek Mendominasi
Feeder LRT Palembang Disetop, Djoko Setijowarno Bongkar Masalah Transportasi Publik
Gus Rivqy Desak Garuda Indonesia Berbenah Total, Kerugian Jadi Alarm Transformasi
Tol Jakarta-Cikampek Diperbaiki hingga 7 November, Ini 3 Titik yang Perlu Diwaspadai Pengendara
Pontianak Siapkan 19 Bus Modern Mulai 2027, Ini Dua Rute yang Akan Dilayani
Cuma Pasang Stiker Reflektif, JMTO Berhasil Tekan Kecelakaan di Tol Pandaan–Malang
Pendapatan Jasa Marga Tembus Rp15,6 Triliun, Laba Bersih Kuartal III 2026 Capai Rp2,7 Triliun
Hujan Deras Picu Longsor di Sipirok, Separuh Badan Jalan Amblas

Berita Terkait

Senin, 2 November 2026 - 15:15 WIB

55 Persen Perjalanan Bus Terindikasi Melanggar, Penyimpangan Trayek Mendominasi

Senin, 2 November 2026 - 09:24 WIB

Feeder LRT Palembang Disetop, Djoko Setijowarno Bongkar Masalah Transportasi Publik

Minggu, 1 November 2026 - 10:15 WIB

Gus Rivqy Desak Garuda Indonesia Berbenah Total, Kerugian Jadi Alarm Transformasi

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 11:44 WIB

Tol Jakarta-Cikampek Diperbaiki hingga 7 November, Ini 3 Titik yang Perlu Diwaspadai Pengendara

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 08:43 WIB

Pontianak Siapkan 19 Bus Modern Mulai 2027, Ini Dua Rute yang Akan Dilayani

Berita Terbaru