Masih Belum Kedaluwarsa, Tapi Bisa Berbahaya: Ini Fakta yang Sering Diabaikan

- Penulis

Minggu, 25 Januari 2026 - 11:16 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi konsumen sedang melihat masa kaladuarsa (Expired Date) sebuah barang (dibikin oleh ai -rentak.id)

Ilustrasi konsumen sedang melihat masa kaladuarsa (Expired Date) sebuah barang (dibikin oleh ai -rentak.id)

SELAMA  ini, banyak orang merasa aman mengonsumsi makanan atau obat selama tanggal expired di kemasan belum terlewati. Anggapan ini terdengar logis, tapi sayangnya tidak sepenuhnya benar. Ada satu fakta penting yang kerap luput dari perhatian: tanggal kedaluwarsa hanya berlaku jika kemasan masih utuh dan belum dibuka.

Begitu segel dibuka, aturan mainnya berubah. Produk yang tampak “masih aman” di atas kertas bisa saja menyimpan risiko kesehatan yang serius—mulai dari gangguan pencernaan hingga penurunan efektivitas obat, bahkan efek berbahaya.

Expired Date Bukan Jaminan Mutlak

Tanggal kedaluwarsa ditetapkan produsen melalui serangkaian uji stabilitas yang ketat. Namun, pengujian ini dilakukan dengan satu asumsi utama: produk disimpan dalam kemasan tertutup rapat dan sesuai petunjuk penyimpanan.

Dalam kondisi ideal tersebut, produk memang dinilai aman hingga tanggal yang tertera. Masalahnya, begitu kemasan dibuka, produk langsung terpapar udara, cahaya, kelembapan, mikroorganisme, serta sentuhan tangan manusia. Sejak saat itu, expired date bukan lagi satu-satunya patokan keamanan.

MFG Bukan Tanggal Kedaluwarsa, Ini Penjelasannya

Selain tulisan EXP, konsumen juga sering menemukan label MFG pada kemasan. Banyak yang keliru mengartikannya sebagai batas aman konsumsi.

Padahal, MFG (Manufacturing Date) adalah tanggal produksi, bukan tanggal kedaluwarsa. Alurnya sederhana:

MFG (tanggal produksi) → masa simpan → EXP (tanggal kedaluwarsa)

Artinya, tanggal expired dihitung sejak produk dibuat, dengan catatan produk tidak pernah dibuka dan disimpan sesuai aturan.

Kenapa Produk Lebih Cepat Rusak Setelah Dibuka?

Secara ilmiah, ada beberapa faktor utama yang membuat produk lebih cepat menurun kualitasnya setelah kemasan dibuka, antara lain:

Masuknya bakteri dan jamur dari lingkungan sekitar

Paparan oksigen yang mempercepat proses oksidasi

Perubahan suhu dan kelembapan penyimpanan

Inilah sebabnya banyak produk mencantumkan peringatan tambahan seperti “Habiskan dalam X hari setelah dibuka” atau “Simpan di lemari es setelah dibuka”.

Obat-Obatan: Risiko yang Tak Boleh Diremehkan

Jika pada makanan risikonya “hanya” gangguan pencernaan, pada obat-obatan dampaknya bisa jauh lebih serius. Beberapa contoh yang perlu diwaspadai:

Obat sirup dan tetes mudah terkontaminasi setelah dibuka

Antibiotik cair memiliki batas hari pakai tertentu setelah dilarutkan

Salep dan krim rentan tercemar akibat kontak langsung dengan tangan

Meski tanggal kedaluwarsa masih lama, obat-obatan tersebut bisa menjadi tidak efektif, rusak, atau bahkan berbahaya jika digunakan melewati batas waktu setelah dibuka.

Kesalahan Umum yang Perlu Diluruskan

Produk belum kedaluwarsa bukan berarti selalu aman, terutama jika:

Sudah lama dibuka

Disimpan tidak sesuai anjuran

Mengalami perubahan bau, rasa, warna, atau tekstur

Dalam kondisi ragu, prinsip paling aman tetap sama: lebih baik dibuang daripada mempertaruhkan kesehatan.

Kesimpulan

Tanggal kedaluwarsa bukanlah jaminan mutlak keamanan produk. Label tersebut hanya berlaku dalam kondisi ideal—kemasan utuh, belum dibuka, dan disimpan dengan benar. Setelah kemasan dibuka, waktu penggunaan, cara penyimpanan, dan kondisi fisik produk menjadi penentu utama.

Edukasi sederhana ini penting untuk terus disebarkan. Kesalahan kecil dalam memahami label kemasan bisa berdampak besar bagi kesehatan, baik secara individu maupun masyarakat luas.

Sumber Rujukan:

BPOM RI – Pedoman Keamanan Pangan dan Informasi Obat

FDA (U.S. Food & Drug Administration) – Food & Drug Storage After Opening

WHO (World Health Organization) – Food Safety & Safe Use of Medicines

Penulis : atz

Editor : ameri

Berita Terkait

Tembakau Mojo Lumajang dan Kisah Minak Jinggo yang Hidup di Masyarakat
Bukan untuk Pembayaran, Ini Sejarah QR Code yang Berawal dari Industri Otomotif
TECNO POVA 8 Pro 5G Resmi Meluncur di Indonesia, Hadirkan Dual Chipset, Sony LYTIA 700C, dan Kolaborasi Eksklusif bersama Tonino Lamborghini
Kontroversi SKNC 2026 Pekalongan, MUI Nilai Atraksi Satanic Bertentangan dengan Maulid
Experience Luxury, KAI Wisata Bawa Kemewahan Perjalanan Kereta ke KAI Expo 2026
Air Kemasan, PDAM, Sumur atau Isi Ulang, Mana yang Paling Aman untuk Diminum? Ini Penjelasannya
KAI Daop 1 Peringati Hari Anak Nasional 2026 dengan Edukasi Perkeretaapian di Stasiun Gambir
Manfaat Talas untuk Penderita Diabetes, Bisa Jadi Pengganti Nasi yang Lebih Aman

Berita Terkait

Kamis, 29 Oktober 2026 - 08:45 WIB

Tembakau Mojo Lumajang dan Kisah Minak Jinggo yang Hidup di Masyarakat

Rabu, 7 Oktober 2026 - 08:28 WIB

Bukan untuk Pembayaran, Ini Sejarah QR Code yang Berawal dari Industri Otomotif

Kamis, 1 Oktober 2026 - 23:08 WIB

TECNO POVA 8 Pro 5G Resmi Meluncur di Indonesia, Hadirkan Dual Chipset, Sony LYTIA 700C, dan Kolaborasi Eksklusif bersama Tonino Lamborghini

Senin, 14 September 2026 - 16:31 WIB

Kontroversi SKNC 2026 Pekalongan, MUI Nilai Atraksi Satanic Bertentangan dengan Maulid

Jumat, 4 September 2026 - 21:41 WIB

Experience Luxury, KAI Wisata Bawa Kemewahan Perjalanan Kereta ke KAI Expo 2026

Berita Terbaru