Mudik Kini Jadi Ajang Flexing, Akankah Tradisi Sakral Kian Terkikis oleh Budaya Pamer ?

- Penulis

Rabu, 9 April 2025 - 21:02 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Rombongan Mudik Lebaran. (Foto:int/rri)

Ilustrasi Rombongan Mudik Lebaran. (Foto:int/rri)

BOGOR – Mudik kini tak lagi sekadar pulang kampung demi bersua keluarga dan menjalin silaturahmi. Di era digital dan serba instan ini, mudik mulai berubah arah menjadi ajang unjuk pencapaian dan flexing di media sosial.

Menurut Prof. Dr. Sofyan Sjaf, pakar Sosiologi Pedesaan dari IPB University, dalam siaran persnya pada Selasa (8/4), pergeseran budaya mudik ini tak lepas dari dinamika zaman.

“Dulu, mudik adalah ritual sakral. Sekarang, banyak yang menjadikannya sebagai panggung pamer gaya hidup sukses,” tegasnya.

Dari Sakral ke Sosial Media

Pada masa lalu, motivasi utama mudik adalah mengunjungi orang tua, memohon maaf, dan mempererat ikatan darah. Namun kini, menurut Prof. Sofyan, makna itu mulai memudar.

“Masyarakat usia produktif lebih suka merayakan Lebaran di tempat liburan atau bahkan di luar negeri. Bukan pulang ke kampung halaman, tapi justru membawa orang tua berlibur,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa perubahan gaya hidup turut mendorong pergeseran ini.

“Biaya transportasi yang makin terjangkau dan banyaknya opsi kendaraan membuat orang lebih fleksibel, tapi sekaligus membuat mudik kehilangan nilai sakralnya.”

Flexing Jadi ‘Menu Utama’

Bukan lagi sungkeman yang jadi sorotan saat Lebaran. Kini, feed Instagram dan story TikTok justru menjadi ajang utama para pemudik.

“Budaya materialisme semakin menonjol. Dulu orang pulang kampung bawa tangan kosong tapi hati penuh syukur. Sekarang? Bawa koper branded, pamer outfit, bahkan tunjukkan saldo e-wallet,” ungkap Prof. Sofyan dengan nada prihatin.

Menurutnya, ini menandai pergeseran nilai dari kesederhanaan menuju kompetisi simbolik.

“Kalau dulu mudik adalah perjalanan hati, kini lebih mirip kompetisi visual,” tambahnya.

Tradisi yang Mulai Terkikis

Tak hanya itu, cara bersilaturahmi pun mengalami transformasi besar.

“Dulu orang datang dari rumah ke rumah. Sekarang? Cukup satu undangan halal bihalal di tempat wisata. Efisien, tapi minim kehangatan,” katanya.

Budaya sungkeman yang pernah jadi simbol penghormatan pun mulai langka.

“Banyak anak sekarang hanya kirim pesan WhatsApp atau video call. Sementara nilai adab yang dulu ditanamkan lewat sungkeman, perlahan menghilang,” jelas Prof. Sofyan.

Mudik dan Efek Ekonomi

Namun, di balik semua perubahan itu, mudik tetap menjadi penggerak ekonomi daerah. “Ketika pemudik datang, perputaran uang di desa meningkat drastis. Ini peluang besar bagi UMKM lokal,” ujarnya.

Meski begitu, ia mengingatkan bahwa tren urbanisasi tetap jadi tantangan serius. “Kita harus berhenti melihat kota sebagai pusat segalanya. Pembangunan desa harus digerakkan dengan strategi yang lebih berani dan sistematis,” tutupnya.

Mudik kini bukan hanya soal rindu, tapi juga citra. Di antara padatnya lalu lintas dan padatnya unggahan media sosial, mungkin kita perlu bertanya kembali: apa sebenarnya makna pulang?

Kalau kamu mudik tahun ini, apakah masih mencari makna, atau sekadar mencari sinyal untuk upload story? (Rahmat Kurnia)

Penulis : Rahmat Kurnia Lubis

Editor : Erka

Berita Terkait

Bukan untuk Pembayaran, Ini Sejarah QR Code yang Berawal dari Industri Otomotif
TECNO POVA 8 Pro 5G Resmi Meluncur di Indonesia, Hadirkan Dual Chipset, Sony LYTIA 700C, dan Kolaborasi Eksklusif bersama Tonino Lamborghini
Kontroversi SKNC 2026 Pekalongan, MUI Nilai Atraksi Satanic Bertentangan dengan Maulid
Experience Luxury, KAI Wisata Bawa Kemewahan Perjalanan Kereta ke KAI Expo 2026
Air Kemasan, PDAM, Sumur atau Isi Ulang, Mana yang Paling Aman untuk Diminum? Ini Penjelasannya
KAI Daop 1 Peringati Hari Anak Nasional 2026 dengan Edukasi Perkeretaapian di Stasiun Gambir
Manfaat Talas untuk Penderita Diabetes, Bisa Jadi Pengganti Nasi yang Lebih Aman
Waspada! HP Panas dan Baterai Boros Bisa Jadi Tanda Saldo Dikuras APK Jahat

Berita Terkait

Rabu, 7 Oktober 2026 - 08:28 WIB

Bukan untuk Pembayaran, Ini Sejarah QR Code yang Berawal dari Industri Otomotif

Kamis, 1 Oktober 2026 - 23:08 WIB

TECNO POVA 8 Pro 5G Resmi Meluncur di Indonesia, Hadirkan Dual Chipset, Sony LYTIA 700C, dan Kolaborasi Eksklusif bersama Tonino Lamborghini

Senin, 14 September 2026 - 16:31 WIB

Kontroversi SKNC 2026 Pekalongan, MUI Nilai Atraksi Satanic Bertentangan dengan Maulid

Jumat, 4 September 2026 - 21:41 WIB

Experience Luxury, KAI Wisata Bawa Kemewahan Perjalanan Kereta ke KAI Expo 2026

Senin, 24 Agustus 2026 - 07:32 WIB

Air Kemasan, PDAM, Sumur atau Isi Ulang, Mana yang Paling Aman untuk Diminum? Ini Penjelasannya

Berita Terbaru