RENTAK.ID – Manajemen PSMS Medan menegaskan bahwa klub kebanggaan Sumatera Utara ini tidak untuk diperjualbelikan.
Namun, mereka tetap membuka peluang bagi siapa pun yang ingin berkontribusi dalam pengelolaan tim demi meraih hasil lebih baik di kompetisi Liga 2 musim depan.
Direktur Utama PT Kinantan Medan Indonesia (KMI), Arifuddin Maulana Basri, menyampaikan bahwa pihaknya terus berupaya membangun komunikasi dengan berbagai pemangku kepentingan guna mendapatkan dukungan fasilitas yang lebih memadai bagi PSMS Medan.
“Kami memastikan PSMS tetap menjadi milik masyarakat Medan dan Sumatera Utara. Tidak ada rencana untuk menjual klub ini, tetapi kami terbuka untuk siapa pun yang ingin membantu membangun tim ini agar semakin kuat,” ujar Arifuddin dalam keterangannya di Medan, Sabtu.
Ia juga mengungkapkan bahwa saat ini manajemen aktif berkomunikasi dengan Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kota Medan, Dispora Sumatera Utara, serta berencana bertemu dengan Wali Kota Medan dan Gubernur Sumatera Utara yang baru terpilih.
“Kami ingin PSMS kembali menjadi tim yang disegani di kancah nasional. Oleh karena itu, dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, sangat kami harapkan,” tambahnya.
Mohon Maaf dan Terima Kasih atas Dukungan Suporter
Arifuddin juga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Kota Medan setelah PSMS gagal promosi ke Liga 1.
Meski demikian, ia mengapresiasi dukungan besar dari para pendukung setia Ayam Kinantan.
“Kami memahami kekecewaan suporter karena PSMS belum bisa kembali ke Liga 1. Namun, kami sangat berterima kasih atas dukungan luar biasa yang terus diberikan kepada tim ini. Kami akan terus berusaha agar PSMS bisa kembali ke kasta tertinggi sepak bola Indonesia,” katanya.
Tantangan Finansial dan Kepastian Gaji Pemain
Sementara itu, Sekretaris Umum PSMS Medan, Julius Raja, mengakui bahwa mengelola klub profesional bukanlah tugas yang mudah, terutama dari sisi finansial.
Menurutnya, PSMS membutuhkan anggaran sekitar Rp12 miliar per musim untuk bersaing di Liga 2, sementara pendapatan dari sponsor dan subsidi PT Liga Indonesia Baru (LIB) hanya sekitar Rp5 miliar.
“Kami harus mencari solusi setiap musimnya agar bisa menutupi kekurangan anggaran sekitar Rp7 miliar. Ini tantangan besar yang harus kami hadapi,” ungkap Julius.
Terkait isu keterlambatan gaji pemain, Julius memastikan bahwa hak para pemain tetap menjadi prioritas manajemen.
Ia membantah kabar yang menyebutkan adanya tunggakan gaji, mengingat kontrak pemain masih berjalan hingga Maret.
“Kontrak mereka masih berjalan sampai bulan Maret, jadi kami masih dalam jalur yang benar untuk menyelesaikan kewajiban kami. Saat ini masih bulan Februari, dan kami akan memenuhi komitmen tersebut.***
Editor : Ayham
Sumber Berita: Antara Sumut






