RENTAK.ID – Ketua Primer Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia (Primkopti) Jakarta Timur, Suyanto mengatakan, fenomena kelangkaan kedelai dalam dua minggu terakhir yang di barengi dengan kenaikan harga bukan kali pertama di alami oleh pengrajin tahu dan tempe di seluruh Indonesia.
“Saat ini ga bisa di hindari harga kedelai akan terus bergerak naik sampai batas harga yang tidak bisa di prediksi. Problem inilah yang menjadikan pengrajin tahu dan tempe di seluruh Indonesia panik,” kata Suyanto.
Penyebab kelangkaan kedelai ini, lanjutnya, belum di ketahui secara pasti.
“Hanya ada beberapa pendapat yang mengatakan bahwa kelangkaan kedelai ini lantaran siklus import dan lahan pertanian di sumbernya mulai berkurang, sehingga stok kedelai menjadi semakin sedikit yang menyebabkan harga di pasaran naik,” ucapnya.
Maka kita perlu menghadirkan solusi yang komprehensif. Fokusnya pada Stabilisasi stok dan harga, memperbaiki tata kelola kedelai, dan memenuhi standar harga yg di harapkan oleh pengrajin tahu dan tempe.

Ketua Primer Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia (Primkopti) Jakarta Timur, Suyanto
“Dalam rangka membangun sistem tata kelola kedelai harus di tangani oleh Pemerintah dalam hal ini Bulog atau instansi yang di tunjuk. Kalau tata kelola kedelai ini masih di tangani oleh pihak swasta, maka problem kelangkaan dan kenaikan harga kedelai pasti akan terulang terus setiap saat,” ucapnya.
Memang akui, lanjutnya, bahwa yang menyebabkan kelangkaan dan kenaikan harga kedelai yang tak terkendali itu di sebabkan oleh banyak faktor.
“Dan ini akan selalu ada setiap saat, maka di butuhkan kebijakan dari pemerintah yang bersifat tangan besi. Harus tegas dan kongkrit serta terbitkan aturan main yang ketat dan sanksi yang berat. Supaya ada efek jera bagi siapapun yang selama ini memainkan stok dan harga kedelai dengan bebasny,” tegasnya.
Ketika membicarakan kelangkaan dan kenaikan harga kedelai, sebutnya, kerap kali hanya sebagai isu yang menarik diperbincangkan tapi luput dikerjakan. Dalih yang sering kali muncul, isu ini baru layak dikerjakan setelah di demo dan ramai di publikasikan melalui media masa
“Yang paling berdampak dari kelangkaan dan kenaikan harga kedelai adalah pengrajin tahu dan tempe. Walaupun utk masyarakat umum pengkonsumsi tahu tempe juga kena dampaknya, karena mereka harus membeli tahu dan tempe dengan harga lebih mahal dan ukurannya lebih kecil,” beber Suyanto.
Yang kita butuhkan dalam solusi kelangkaan dan kenaikan harga kedelai saat ini adalah keberpihakan pemerintah terhadap pengrajin tahu dan tempe, bukan malah menjadikannya pintu masuk menitipkan kepentingan atau kesempatan dlm kesempitan.
Pemerintah harusnya perlu mengajak semua pihak yg berkepentingan untuk berkolaborasi melahirkan banyak solusi yang strategis. Pemerintah tak akan bisa menyelesaikan masalah kelangkaan dan kenaikan harga kedelai sendirian.
“Pengrajin semakin hari semakin menghadapi ketidakpastian, hari2nya di liputi rasa kepanikan melihat kedelai semakin langka dan trend harga yg terus naik,” ucap Suyanto.
Janji pemerintah untuk stabilisasi stok dan harga mutlak harus dipenuhi. Kita perlu lebih aktif menunjukkan komitmen dan berbagi pengalaman kita dalam penyelesaian kelangkaan dan kenaikan harga kedelai, sehingga Pemerintah ini bisa membuat formula yg terbaik dalam mencari solusi.
Di atas kertas, bebernya, pemerintah mencanangkan program stabilisasi stok dan harga kedelai dengan target jangka pendek. Semestinya pelaksanaannya juga harus dikerjakan dengan serius. Kelangkaan dan kenaikan harga ini tak akan selesai jika dikerjakan hanya sebagai business as usual.
Mewujudkan stabilisasi stok dan harga kedelai berarti menciptakan situasi dan kondisi usaha pengrajin tahu dan tempe yang kondusif dan bisa berjalan beriringan dalam menjalankan usahanya untuk terus maju.
“Point yang paling penting untuk menyelesaikan problem rutin ini adalah adanya campur tangan pemerintah. Tanpa adanya campur tangan pemerintah, problem kelangkaan dan kenaikan harga kedelai ini bisa terjadi kapan saja,” tutup Suyanto.






