Hasil Riset Jangan Berhenti di Laboratorium, Wamentan Dorong Hilirisasi Kopi dan Kakao

- Penulis

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 08:01 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Wamentan Alim Setiawan Slamet saat mengunjungi Balai Perakitan dan Pengujian Tanaman Industri dan Penyegar (BRMP TRI) di Sukabumi. (dok. kementan).

Wamentan Alim Setiawan Slamet saat mengunjungi Balai Perakitan dan Pengujian Tanaman Industri dan Penyegar (BRMP TRI) di Sukabumi. (dok. kementan).

SUKABUMI – Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong percepatan hilirisasi kopi dan kakao agar hasil riset tidak berhenti di laboratorium, tetapi berkembang menjadi produk bernilai tambah yang mampu bersaing di pasar.

Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Alim Setiawan Slamet mengatakan, kunci percepatan hilirisasi terletak pada kolaborasi antara balai riset, perguruan tinggi, dan pelaku industri. Dengan begitu, inovasi yang dihasilkan bisa lebih cepat diterapkan dan memberi manfaat ekonomi bagi sektor perkebunan.

“Tugas yang diberikan kepada saya adalah mengakselerasi pembangunan dari hasil-hasil riset dan perakitan. Kita perlu mendorong kolaborasi yang lebih erat agar inovasi bisa lebih cepat diadopsi menjadi teknologi unggul,” kata Alim saat mengunjungi Balai Perakitan dan Pengujian Tanaman Industri dan Penyegar (BRMP TRI) di Sukabumi, Jumat (23/10/2026).

Dalam kunjungan tersebut, Alim meninjau potensi fasilitas, lahan, dan inovasi yang dapat dikembangkan untuk mendukung program strategis pertanian, terutama pengolahan hasil perkebunan.

Menurut dia, kopi dan kakao memiliki peluang besar untuk dikembangkan melalui penerapan teknologi dan kemitraan dengan dunia usaha. Namun, hasil penelitian perlu disesuaikan dengan kebutuhan teknis serta peluang pasar agar dapat dimanfaatkan secara optimal.

“Potensinya luar biasa. Tinggal bagaimana kita menyambungkan hasil inovasi ini dengan kebutuhan teknis dan mitra yang tepat,” ujarnya.

Aset Balai Pertanian Didorong Lebih Produktif

Selain mempercepat hilirisasi, Alim meminta fasilitas dan lahan milik BRMP TRI dimanfaatkan secara lebih produktif. Aset negara tersebut dinilai dapat mendukung pengembangan teknologi, pendidikan, pelatihan, hingga peningkatan kapasitas sumber daya manusia melalui kerja sama dengan berbagai pihak.

“Kita perlu mengajak lebih banyak mitra untuk memanfaatkan fasilitas dan lahan yang ada. Kebutuhannya kita petakan, mitranya kita identifikasi, dan saya siap membantu menghubungkan agar kolaborasi ini bisa berjalan,” kata Alim.

Ia juga mendorong agar pola kemitraan yang berhasil diterapkan di BRMP TRI dapat dikembangkan di balai lain di bawah Kementan.

Menurut Alim, Kementan memiliki berbagai balai yang menangani komoditas strategis, mulai dari tanaman industri dan penyegar, kelapa sawit, tebu, tanaman rempah dan obat, hingga tanaman pangan dan hortikultura.

Potensi tersebut dapat disatukan melalui konsorsium dan kerja sama lintas lembaga, termasuk dengan perguruan tinggi serta mitra industri.

“Kalau model kolaborasi ini berhasil, saya kira bisa kita kembangkan secara paralel di balai-balai lain. Kita sudah memiliki konsorsium yang melibatkan sejumlah perguruan tinggi dan mitra, dan ini akan kita lanjutkan,” ujarnya.

Teknologi Bioenergi Tetap Perhatikan Kebutuhan Pangan

Pembahasan dalam kunjungan itu juga mencakup peluang pengembangan teknologi bioenergi berbahan baku pertanian.

Alim menyebut pengembangan bahan baku seperti kelapa, kopi, dan singkong perlu diikuti peningkatan kualitas serta efisiensi teknologi. Sumber bahan baku lain juga dapat dikaji dengan mempertimbangkan ketersediaan dan kelayakan penerapannya.

Meski demikian, ia mengingatkan agar pengembangan bioenergi tidak mengganggu pemenuhan kebutuhan pangan. Pemilihan bahan baku dan teknologi harus memperhatikan efisiensi, keberlanjutan, serta keseimbangan antara kebutuhan energi dan pangan.

Melalui penguatan kolaborasi dan hilirisasi, Kementan berharap hasil riset perkebunan dapat lebih cepat diterapkan oleh industri, menghasilkan produk dengan nilai tambah lebih tinggi, serta memperkuat daya saing komoditas Indonesia.

Sinergi antara balai, perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan dunia usaha diharapkan menjadi penghubung agar inovasi pertanian tidak hanya berhenti sebagai hasil penelitian, tetapi juga berkembang menjadi penggerak produktivitas dan pertumbuhan ekonomi.

Penulis : dafri jh

Editor : ami

Berita Terkait

Hutan Terbakar Tak Bisa Pulih 100 Persen, Ateng Sutisna Desak Pemulihan Lingkungan
Menko Polkam Pimpin Pertemuan 8 Negara, Terorisme hingga Kejahatan Siber Jadi Sorotan
Ahmad Irawan Minta Pemerintah Perkuat Pengawasan MBG dan Dana Daerah
133 Alumni MagangHub Direkrut BRI, Menaker Minta Kuota Magang Ditambah
Warga Makassar Padati Gerakan Pangan Murah, BULOG Bagikan 300 Paket Beras
Karhutla Indonesia Tembus 1,92 Juta Hektare, DPR Desak Pemerintah Berbenah
ATR/BPN Cegah Kerugian Rp23,3 Triliun, Ribuan Kasus Tanah Masih Menggantung
Gagal Cegah Karhutla Berulang, Raja Juli Antoni Diminta Mundur dari Menhut

Berita Terkait

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 08:49 WIB

Hutan Terbakar Tak Bisa Pulih 100 Persen, Ateng Sutisna Desak Pemulihan Lingkungan

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 08:18 WIB

Menko Polkam Pimpin Pertemuan 8 Negara, Terorisme hingga Kejahatan Siber Jadi Sorotan

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 08:09 WIB

Ahmad Irawan Minta Pemerintah Perkuat Pengawasan MBG dan Dana Daerah

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 08:01 WIB

Hasil Riset Jangan Berhenti di Laboratorium, Wamentan Dorong Hilirisasi Kopi dan Kakao

Jumat, 23 Oktober 2026 - 11:04 WIB

Warga Makassar Padati Gerakan Pangan Murah, BULOG Bagikan 300 Paket Beras

Berita Terbaru