JAKARTA – Sektor pariwisata Indonesia tetap menunjukkan kinerja positif di tengah ketidakpastian global. Hingga Juli 2026, kunjungan wisatawan mancanegara (wisman), perjalanan wisatawan nusantara (wisnus), dan okupansi hotel sama-sama mencatat pertumbuhan.
Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana mengatakan capaian tersebut menjadi alasan untuk tetap optimistis, meski kondisi global masih dinamis.
“Capaian ini tentu patut kita syukuri. Namun, situasi global masih sangat dinamis. Karena itu, Kementerian Pariwisata terus melakukan mitigasi, memperkuat strategi pasar, dan memastikan momentum pertumbuhan ini dapat terus dijaga hingga akhir tahun,” kata Widiyanti di Jakarta di kutip, Jumat (11/9/2026)..
Berdasarkan data BPS, kunjungan wisman Januari-Juli 2026 mencapai 8,98 juta, tumbuh 5,23 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan terutama berasal dari pasar Asia dan Oseania.
Ketahanan pariwisata juga tercermin dari devisa. Pada Semester I 2026, devisa pariwisata mencapai 8,43 miliar dolar AS atau sekitar Rp145,13 triliun, naik 2,88 persen dibandingkan periode yang sama 2025.
“Di tengah dinamika geopolitik, ketidakpastian dan perlambatan ekonomi global, pariwisata Indonesia tetap menunjukkan ketahanan,” ujar Widiyanti.
Menurutnya, keberhasilan pariwisata tidak hanya diukur dari jumlah wisatawan, tetapi juga dampak ekonomi yang ditinggalkan di daerah.
“Pariwisata bukan hanya tentang berapa banyak wisatawan yang datang, tetapi seberapa besar nilai ekonomi yang mereka tinggalkan di Indonesia dan seberapa luas manfaatnya dirasakan masyarakat,” katanya.
Sementara itu, Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa menyebut perjalanan wisnus Januari-Juli 2026 mencapai 737,85 juta perjalanan, tumbuh 3,34 persen. Pada periode yang sama, perjalanan masyarakat Indonesia ke luar negeri mencapai 5,26 juta, turun 3,25 persen.
Tingkat okupansi hotel juga naik menjadi 49,13 persen, atau tumbuh 2,36 persen secara tahunan.
“Pertumbuhan pariwisata tidak cukup hanya diukur dari jumlah orang yang melakukan perjalanan. Yang ingin kita dorong adalah lama tinggal, belanja wisatawan, aktivitas usaha, serta manfaat ekonomi di destinasi,” kata Ni Luh.
Kemenpar juga terus mengembangkan desa wisata. Hingga 1 September 2026, Indonesia memiliki 6.400 desa wisata. Pemerintah turut menyiapkan KEN 2027 dengan target dukungan terhadap 125 event.
Di sisi lain, keselamatan dan pemulihan destinasi menjadi perhatian setelah sejumlah wilayah terdampak bencana. Kemenpar memperkuat pelatihan keselamatan wisata bahari di delapan provinsi serta berkoordinasi dalam pemulihan Bromo, Labuan Bajo-Flores dan Desa Adat Sade.
Erupsi Gunung Anak Krakatau juga berdampak terhadap penerbangan dengan 4.132 penerbangan dibatalkan dan sekitar 450 ribu penumpang terdampak. Kemenpar mendorong penerapan force majeure agar wisatawan mendapat kemudahan refund dan reschedule.
“Keselamatan harus menjadi fondasi pariwisata yang berkualitas. Prinsipnya, melindungi manusia terlebih dahulu, mempercepat pemulihan destinasi dan mata pencaharian masyarakat, serta membangun kembali dengan lebih aman dan tangguh,” ujar Widiyanti.
Menpar optimistis momentum pertumbuhan pariwisata dapat dipertahankan hingga akhir 2026 melalui kolaborasi pemerintah, industri, komunitas dan masyarakat.
Penulis : lazir
Editor : ameri






