JAKARTA – Ancaman di ruang digital kini tidak lagi sebatas pencurian data, peretasan, atau serangan ransomware. Banjir informasi palsu yang diperkuat kecerdasan artifisial (AI) juga berpotensi mengganggu kesehatan mental masyarakat, memicu kecemasan, hingga merusak kepercayaan publik.
Ketua Indonesia Cyber Security Forum (ICSF), Ardi Sutedja K, menilai perkembangan ekosistem digital yang semakin terkoneksi telah mengubah ruang informasi menjadi medan pertarungan persepsi dan psikologis.
Menurutnya, masyarakat setiap hari dihadapkan pada beragam informasi yang memicu ketakutan dan ketidakpastian. Mulai dari kebakaran hutan dan lahan, serangan siber terhadap institusi, polarisasi politik, hingga isu sensitif dugaan penyadapan terhadap simbol negara.
Situasi semakin rumit karena disinformasi kini dapat diproduksi dan disebarluaskan menggunakan teknologi AI, termasuk melalui deepfake dan teks buatan yang menyerupai informasi autentik.
“Persoalannya bukan lagi sekadar seberapa cepat informasi menyebar, tetapi bagaimana informasi itu memengaruhi cara masyarakat berpikir, merasakan, dan mengambil keputusan. Ketika rasa takut, kemarahan, dan ketidakpastian terus dipancing oleh algoritma, masyarakat menanggung beban psikologis yang tidak ringan,” ujar Ardi, Sabtu (7/11/2026).
Ia menjelaskan, fenomena tersebut perlu dilihat melalui perspektif Cyber Psychology atau psikologi siber, sebagaimana dikembangkan ilmuwan Prof. Dr. Mary Aiken.
Dalam perspektif ini, dunia digital bukan sekadar sarana komunikasi, melainkan lingkungan yang turut membentuk perilaku dan respons psikologis manusia.
Paparan informasi tanpa henti dapat memicu technocognitive overload, yakni kondisi ketika kemampuan kognitif seseorang kewalahan memproses rangsangan digital yang datang terus-menerus.
Jika berlangsung berkepanjangan, kondisi tersebut dapat meningkatkan kecemasan digital, kelelahan emosional, hingga menurunkan kemampuan masyarakat membedakan informasi faktual dan manipulatif.
“Ketika seseorang terus-menerus menerima informasi tentang ancaman keamanan, bencana, peretasan, dan konflik politik yang disajikan secara sensasional, pikirannya bisa terus berada dalam kondisi siaga. Akibatnya, muncul kecemasan, kelelahan empati, bahkan ketidakpercayaan terhadap informasi yang sebenarnya benar,” jelasnya.
Disinformasi AI Bisa Melemahkan Ketahanan Sosial
Ardi mengingatkan, bahaya disinformasi berbasis AI tidak berhenti pada kesalahan memahami informasi. Jika terus berlangsung, manipulasi konten dapat melemahkan ketahanan psikologis individu sekaligus merusak kohesi sosial.
Salah satu dampaknya adalah learned helplessness, yaitu kondisi ketika seseorang merasa tidak berdaya menghadapi berbagai persoalan karena menganggap situasi sudah berada di luar kendalinya.
Dalam konteks kehidupan digital, paparan berulang terhadap narasi krisis tanpa informasi yang berimbang dan solusi yang jelas dapat membuat masyarakat kehilangan optimisme, mudah curiga, serta rentan terprovokasi.
“Bahaya terbesar disinformasi modern bukan hanya memecah belah masyarakat, tetapi juga membuat individu kelelahan secara psikologis. Ketika rasa tidak berdaya dan ketidakpercayaan tumbuh, masyarakat menjadi lebih mudah dimanipulasi,” katanya.
Karena itu, ia menegaskan bahwa membangun keamanan siber tidak cukup hanya mengandalkan teknologi perlindungan data, firewall, maupun sistem enkripsi.
“Ketahanan siber sejati tidak hanya dibangun melalui firewall perangkat lunak dan enkripsi data, tetapi harus dimulai dari proteksi kognitif dan ketahanan mental setiap individu di ruang digital,” tegas Ardi.
Empat Langkah Melindungi Kesehatan Mental di Ruang Digital
Untuk menghadapi ancaman tersebut, Ardi mendorong masyarakat membangun kebiasaan digital yang lebih sehat melalui empat langkah.
Pertama, menerapkan cognitive hygiene. Masyarakat perlu membatasi waktu mengakses berita negatif yang berulang dan berpotensi memicu kecemasan. Mengurangi kebiasaan doomscrolling atau terus-menerus menggulir berita buruk dapat membantu menjaga kesehatan mental.
Kedua, membiasakan verifikasi informasi. Konten yang memancing emosi ekstrem sebaiknya tidak langsung dipercaya atau disebarkan. Masyarakat perlu memeriksa sumber, membandingkan informasi, serta melakukan validasi melalui kanal resmi dan media kredibel.
Ketiga, mengembangkan digital mindfulness. Pengguna internet perlu mengenali dampak sebuah konten terhadap suasana hati dan tingkat stres. Dengan kesadaran tersebut, masyarakat dapat membedakan fakta di dunia nyata dari persepsi yang dibentuk algoritma media sosial.
Keempat, memperkuat interaksi sosial secara langsung. Komunikasi tatap muka, aktivitas bersama keluarga, dan keterlibatan dalam komunitas menjadi penyeimbang paparan informasi digital yang berlebihan.
Ardi menilai, langkah-langkah tersebut penting agar masyarakat tidak sepenuhnya dikendalikan oleh arus informasi dan algoritma media sosial.
Pada akhirnya, literasi digital harus berjalan beriringan dengan ketahanan psikologis. Masyarakat tidak cukup hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga harus memiliki kemampuan menyaring informasi dan mengendalikan respons emosional.
“Menjadi masyarakat yang cakap digital berarti bukan hanya mampu mengakses dan menggunakan teknologi, tetapi juga memiliki kendali atas pikiran dan emosi sendiri. Dengan memperkuat literasi digital serta ketahanan mental, kita ikut menjaga kewarasan kolektif bangsa di tengah derasnya arus informasi,” pungkasnya.
Penulis : lazir
Editor : ameri






