JAKARTA – Keberhasilan Indonesia mempercepat pencapaian swasembada pangan mulai menarik perhatian negara lain. Kali ini, Pemerintah Somalia menjajaki kerja sama dengan Indonesia untuk mengembangkan sektor pertanian dan peternakan, termasuk melalui transfer teknologi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM), serta pertukaran pengalaman.
Penjajakan kerja sama tersebut dibahas dalam pertemuan Wakil Menteri Luar Negeri Republik Federal Somalia Hasan Mohamed Ali dengan Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Alim Setiawan Slamet di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta, Kamis (5/11/2026).
Pertemuan tersebut menjadi langkah awal bagi kedua negara untuk mengidentifikasi peluang kolaborasi yang bisa diwujudkan dalam program kerja sama konkret.
Wamentan Alim menyambut positif ketertarikan Somalia untuk mempelajari pengalaman Indonesia dalam membangun sektor pertanian dan memperkuat ketahanan pangan. Terlebih, kedua negara menghadapi tantangan yang relatif sama, terutama perubahan iklim dan tuntutan peningkatan produktivitas pangan.
“Indonesia sangat senang dan menjadi suatu kehormatan untuk bisa berbagi pengalaman dalam mencapai swasembada pangan, yang merupakan program strategis Bapak Presiden. Kita berhasil mencapai swasembada pangan dari target empat tahun menjadi satu tahun,” ujar Alim.
Menurutnya, pengalaman Indonesia dalam meningkatkan produksi pangan dapat menjadi referensi bagi Somalia untuk mengoptimalkan potensi pertaniannya.
Indonesia juga membuka peluang kerja sama dalam pengembangan SDM, terutama di bidang peternakan dan kesehatan hewan. Dukungan tersebut mencakup pertukaran pengetahuan hingga transfer teknologi untuk meningkatkan produktivitas peternakan.
“Kami juga siap berbagi pengalaman untuk meningkatkan kapasitas SDM, khususnya di bidang peternakan dan kesehatan hewan, termasuk transfer teknologi untuk meningkatkan produktivitas peternakan. Kami berharap kerja sama ini dapat berlanjut dengan aksi-aksi yang lebih konkret ke depannya,” katanya.
Sementara itu, Hasan Mohamed Ali mengapresiasi kesempatan untuk berdiskusi langsung dengan Kementerian Pertanian Indonesia. Ia menilai Indonesia memiliki pengalaman dan keahlian yang dibutuhkan Somalia untuk mempercepat pengembangan sektor pertanian.
Menurut Hasan, Somalia memiliki potensi lahan yang luas. Namun, optimalisasi sektor pertanian masih membutuhkan dukungan pengetahuan, teknologi, serta penguatan kemampuan sumber daya manusia.
“Kami ingin belajar banyak dari Indonesia. Indonesia memiliki pengalaman luas dalam berbagai bidang pertanian, bisnis, teknologi, dan engineering. Hal-hal tersebut yang kami butuhkan untuk mendukung pengembangan sektor pertanian Somalia melalui kesepakatan kerja sama ke depan,” ungkap Hasan.
Ia berharap pengalaman Indonesia dapat dipelajari dan disesuaikan dengan kebutuhan serta kondisi pertanian di Somalia.
Selain kerja sama teknis, Hasan mengungkapkan hubungan perdagangan kedua negara sebenarnya telah berjalan. Salah satunya melalui impor produk minyak kelapa sawit dari Indonesia.
“Kami selama ini mengimpor beberapa produk dari Indonesia, terutama minyak kelapa sawit. Ke depan, kami membutuhkan dukungan teknis dari Indonesia melalui berbagai bentuk kerja sama yang dapat disepakati bersama,” ujarnya.
Hasan juga menilai posisi strategis Somalia di kawasan Afrika Timur berpotensi membuka peluang lebih besar bagi pengembangan hubungan ekonomi dengan Indonesia.
Karena itu, ia berharap kerja sama pertanian tidak hanya meningkatkan kapasitas produksi dan ketahanan pangan Somalia, tetapi juga memperluas hubungan perdagangan serta pemanfaatan keahlian Indonesia.
Kementerian Pertanian memandang penjajakan tersebut sebagai peluang memperluas diplomasi pertanian Indonesia di tingkat internasional. Kedua negara selanjutnya diharapkan dapat menentukan bidang prioritas dan menyusun program tindak lanjut agar kerja sama memberikan manfaat nyata bagi pengembangan pertanian dan peternakan.
Penulis : lazir
Editor : ameri






