Oleh: Nazwar, S. Fil. I., M. Phil.*
*Penulis Lepas Lintas Jogja Sumatera
IBADAH kepada Allah sebagai bagian terpenting dalam kehidupan bahkan merupakan orientasi dari penciptaan manusia. Ibadah adalah hakikat cara mendekatkan diri seorang hamba kepada Tuhan.
Ibadah dalam Nash shahih baik al-Qur’an dan Hadits maupun kajian dalam ilmu seperti Fiqh Ibadah, memiliki banyak bentuk. Semua bentuk ibadah memiliki keutamaan tersendiri dalam rangka mendekatkan manusia kepada penciptanya.
I’tikaf, satu bentuk ibadah, meski sejak lama termasuk dalam syari’at namun seringkali terlalaikan darinya. Allah menyebut dalam al-Qur’an ibadah yang identik dengan berdiam di masjid ini, terhadap Nabi Ibrahim dan Ismail secara sekaligus.
Qur’an Surat Al-Baqarah Ayat 125: “Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah (Ka’bah) tempat berkumpul dan tempat yang aman bagi manusia.
Dan jadikanlah Maqam Ibrahim itu tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail, “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, orang yang i’tikaf, orang yang ruku’, dan orang yang sujud!”
Dalam kajian berjudul “Bekal Menuju Ramadhan”, Ustadz Ammi Nur Bait menyebut I’tikaf sebagai ibadah pembentuk mental. I’tikaf yang mengharuskan al-“Al-‘Aakif” (orang beri’tikaf/penyembah) bersifat totalitas hanya kepada Allah.
Ibadah sepenuhnya kepada Allah baik secara zahir maupun bathin dengan berdiam di masjid. Maka setiap urusan yang berhubungan dengan dunia hendaknya ditinggalkan.
Maka demikian setiap ibadah di dalamnya seperti shalat, membaca al-Qur’an maupun “thalabul-ilmi” seperti membaca kitab/buku bermanfaat dan berbagai kajian harapannya dapat ditingkatkan kualitas maupun kuantitasnya.
Langkah tersebut tentu dapat membangun mental pelakunya secara sungguh. Ketika hari hubungan dengan Allah benar, baik dan bagus maka berbagai urusan lain kiranya dapat mengikuti seiring terbentuknya mental, “Wallahu a’lam!”
*Penulis Lepas Lintas Jogja Sumatera













